Profil Fernanda Rafifah


Nama saya Fernanda Rafifah. Saya lahir di Jakarta pada tanggal 11 November 2000. Saya anak ke-2 dari 2 bersaudara. Tempat tinggal saya di Perumahan KembangLarangan Jl. Brotowali V B17 No.2 RT 04 RW 10 Pondok Aren, Jurang Mangu Barat, Tangerang Selatan. 15223. Saya tinggal bersama papah, mamah, kakak dan 3 hamster saya yang sangat saya sayangi. Saya lulus dari 2 TK, yang pertama TK Yupentek dan TK Wijaya Kusuma. lalu lulus dari Sekolah Dasar Al-Mubarak, Sekolah Menengah Pertama Yadika 5 dan Sekolah Menengah Atas Cenderawasih II.  Saya termasuk orang yang mempunyai hobi cukup banyak. Yang paling saya sukai dari semuanya adalah Fotografi dan bermusik.

Saya menyukai fotografi sejak kelas 5 SD karena melihat teman mama saya yang seorang fotografer dan mencoba memegang kameranya. Setelah cukup lama memegang dan melihat-lihat kamera itu walaupun belum mengerti apapun, saya langsung membulatkan tekad dalam hati bahwa saya suka ini, saya suka fotografi. Namun tidak seketika itu juga saya mendapat kesempatan untuk mempelajari ilmu fotografi. Sekitar 2 tahun kemudian ketika saya kelas 1 SMP papah membelikan kamera yang sebenarnya untuk bersama, bukan hanya untuk saya. tetapi kakak dan mamah saya lebih senang menjadi yang difoto, akhirnya papah memilih untuk mengajarkan saya beberapa ilmu tentang fotografi yang ia tau karena papah suka fotografi sejak ia remaja. Setelah cukup lama berlatih, mengikuti workshop, membeli buku, menonton youtube, dll akhirnya tiba saat dimana saya mencapai titik jenuh. Saat saya kelas 3 SMP, saya memilih untuk beristirahat sejenak dari dunia fotografi dan mencoba hal lain. yaitu gitar. 

Saya suka musik entah sejak kapan. Saya bermain drum sejak saya berumur 7 tahun karena mamah mendaftarkan saya untuk les drum. awalnya saya tidak suka, karena terlalu rumit dan sulit untuk saya yang berumur 7 tahun dan tidak pernah tau tentang musik. Namun seiring berjalan nya waktu saya menyukai drum. sangat menyukainya. Walaupun saat ujian kenaikan kelas saya tidak pernah mendapat nilai bagus bahkan selalu mendapat 0 saat ujian teori, namun saya bertekad untuk bisa menjadi lebih baik lagi. Setelah saya menduduki Grade 3, sampailah saya pada titik jenuh saya dan akhirnya berhenti untuk les. Namun mamah tetap memanggil guru private yang datang kerumah untuk saya. Karena saya tidak bisa menolak, akhirnya saya mengikuti apa kata mamah. namun setiap les saya selalu bermalas-malasan, apa yang guru tersebut bicarakan selalu masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Lalu mamah mungkin melihat tidak adanya pergerakan yang signifikan dari saya, akhirnya mamah memberhentikan guru tersebut dan menjual drum saya. 

Saat masuk SMA, saya merasa sudah memiliki cukup bekal. Saya bisa fotografi, saya bisa bermain drum dan gitar. Tapi ternyata ketika melihat dunia yang sebenarnya saya merasa saya adalah orang yang paling kurang dalam bidang tersebut. semua teman saya yang memiliki hobi sama ternyata lebih mahir daripada saya. Tentunya saya merasa sangat down. Saya menyesal telah meninggalkan ilmu yang sudah saya cari sejak kecil, saya menyesal telah bermalas-malasan ketika les, saya menyesal karena menyianyiakan uang yang dikeluarkan orang tua saya untuk hal tersebut dan menyianyiakan kesempatan yang mungkin tidak semua orang mendapatkannya. Namun saya berkata kepada diri saya sendiri bahwa ilmu itu tidak pernah hilang dan tidak ada habisnya, tidak ada kata terlambat untuk belajar. 

Saya memulai semuanya kembali, mengingat kembali apa yang sudah saya pelajari. semua dilakukan bertahap dan harus fokus kepada satu hal terlebih dahulu. Memang butuh waktu yang tidak sebentar dalam melakukannya. Tapi saya bisa melakukannya dengan waktu yang cepat karena ada sesuatu yang saya tanamkan di dalam diri saya. Lalu setelah saya merasa cukup dengan ilmu yang saya dapat dalam fotografi, saya diajukan oleh sekolah mengikuti lomba fotografi yang diadakan setiap tahun oleh Al-Azhar BSD. Saya mengikutinya selama 2 tahun berturut-turut namun tidak pernah menang. saya tidak berkecil hati sama sekali, karena saya merasa hasil foto saya sudah cukup bagus dan saya menyukainya. Saya tau mungkin memang belum rezeki saya untuk mendapatkan piagam, piala dan medali. Lagipula saya mengikuti lomba tersebut bukan mengejar piagam atau uang, saya hanya ingin mengukur seberapa jauh ilmu saya tertinggal dari orang lain. 

Lalu saya berusaha untuk lebih mempersempit wawasan fotografi saya, yaitu stage photography. Setiap ada panggung atau acara apapun mulai dari yang gratis sampai yang bayar saya selalu datangi. memang tidak semua, saya hanya datang ke acara yang tidak begitu jauh dari rumah. Saya selalu memilih dan mengedit fotonya tepat setelah saya sampai rumah dan mengunggah di keesokan hari. Beberapa bulan kemudian ada salah satu staff penulis liputan6.com yang mengirim direct message setelah saya mengunggah foto Yovie and Nuno di Instagram. dia ingin mengambil foto saya untuk diunggah di artikel nya karena kebetulan mereka belum mempunyai fotografer lagi setelah fotografernya keluar. Setelah melalui beberapa kesepakatan akhirnya kami mufakat dan foto saya masuk kedalam artikelnya. Tidak lama setelah itu dia mengirim chat lagi ke saya yang berisi tentang tawaran untuk memotret di acara bulanan liputan6.com yaitu Media Campus Gathering Citizen Journalism. Ketika melihat chat tersebut saya langsung senang dan tidak percaya. Saya langsung menerima tawaran tersebut. Akhirnya saya mendapat kesempatan sebanyak 3 kali untuk memotret acara tersebut. Saya sangat senang bisa bertemu beberapa artis dan pembicara yang mereka undang bahkan menjadi kameramen saat teman saya menginterview narasumber. Disana saya mendapat banyak sekali pujian, teman, pengalaman dan pembelajaran yang tidak bisa saya ceritakan semua di blog ini. Tidak hanya diundang untuk memotret acara Media Campus Gathering tersebut, melainkan dia juga beberapa kali meminta tolong kepada saya untuk memotret tentang sesuatu yang akan dia tulis di artikel. Mulai dari tentang properti, tentang fashion, maupun endorse. Saya senang melakukan pekerjaan yang saya sukai dan saya banggakan. namun disetiap hal yang kita lakukan pastinya ada kesulitan. Dan kesulitan saya saat bekerja disana adalah deadline. Memotret pada hari itu dan harus diserahkan esok paginya, sedangkan hari itu baru pulang malam sehabis maghrib atau isya. Belum lagi saya mengedit dan memilih foto-fotonya. Tapi hal tersebut membuat saya belajar lebih banyak dan berlatih supaya lebih baik lagi di bidang fotografi.

Selanjutnya dalam dunia musik. Saya meminta dengan cara baik-baik kepada orang tua untuk kembali les drum ditambah dengan gitar. lalu setelah melewati beberapa perdebatan, mereka menyetujuinya dan mengajak saya ke Purwa Caraka Music Studio. Ketika saya melihat daftar harga nya, saya sangat amat terkejut. Saya langsung benar-benar menyesali kemalasan dan kejenuhan saya dalam les musik pada saat itu. Saya sempat berpikir untuk membatalkan les tersebut namun orang tua saya bilang bahwa saya tidak perlu mencemaskan tentang biaya tapi dengan satu pesan, yaitu belajar dengan sungguh-sungguh dan berusaha untuk menyerap semua ilmu nya dalam waktu belajar yang sebentar. Saya hanya mengangguk dan dibalas dengan senyum penuh harapan dari bibir mamah saya. Saya selalu berusaha memegang kata-kata saya untuk selalu bersungguh-sungguh. Ketika kelas drum saya pernah dimaki-maki dan dimarahi karena saya tidak bisa memainkan partitur yang ada di buku. Hal tersebut sempat membuat saya kesal dan jenuh pastinya, namun setiap saya merasakan hal itu saya selalu mengingat kata-kata mamah. Ketika teringat pesan mamah, saya langsung berusaha untuk tidak mendengarkan makian dari guru tersebut dan fokus membaca partitur tersebut. Lalu dalam beberapa menit kemudian saya berhasil memainkan partitur tersebut walaupun belum pas dengan temponya tetapi sudah lebih baik. 

Saya memang belum bisa menghasilkan uang dari bermusik, namun pencapaian terbesar saya dalam bermusik adalah bisa membuat band dengan teman sekolah saya dan bisa tampil di pensi sekolah. Lalu beberapa bulan lalu saya juga mendapat kesempatan bermain gitar di konser internal Purwa Caraka Music Studio bersama band yang dibuat oleh salah satu guru musik disana. Namun ada cerita menarik saat latihan. Pertama kali latihan saya masuk ruangan musik dengan percaya diri. Namun ketika ingin dimulai guru gitar saya memberikan gitar listrik kepada saya, padahal les gitar saya adalah gitar klasik. Walaupun basic nya sama namun saya disuruh untuk menjadi lead guitar. Cukup sulit memang, bahkan sangat amat sulit. Namun saya menjadikan hal ini sebagai pelajaran baru yang cuma-cuma karena saya tidak perlu membayar les gitar listrik yang lebih mahal dari gitar klasik.
Saya berusaha untuk memajukan band yang saya buat saat SMA kemarin. Namun semua masih dalam proses yang cukup panjang dan kami baru saja memulainya ketika lulus beberapa bulan lalu, karena cukup sulit menyatukan 6 anggota yang memamng ada beberapa buta tentang musik. Dengan sabar saya menyatukan mereka semua, mengajarkan mereka, mengeluarkan ide-ide saya dan mengajak mereka mengeluarkan ide-ide mereka walaupun mereka tidak pernah menyampaikan pendapat mereka dan hanya mengikuti apa yang saya ucapkan. Namun seiring berjalannya waktu saya berpikir untuk berjalan dengan anggota yang ada saja. sampai akhirnya saya cover lagu dengan salah satu teman saya yang menjadi vokalis dan basis di band. setelah beberapa cover akhirnya teman saya satu lagi yang menjadi lead vocalist ikut untuk cover lagu. 

Saat saya memutuskan untuk kuliah di Universitas Pembangunan Jaya dengan jurusan arsitektur, saya tidak ada basic apapun di bidang arsitektur bahkan menggambarpun tidak pernah. Setelah mendaftar saya berudaha untuk belajar menggambar namun tidak bisa. sangat sulit. Akhirnya sketchbook saya hanya saya gunakan untuk menggambar grafiti atau tulisan-tulisan penyemangat yang saya buat untuk menyemangati diri sendiri. Ketika hari pertama kuliah dengan mata kuliah menggambar bentuk, saya sempat takut karena saya tidak bisa apa-apa. Tetapi saya berpikir lagi bahwa tujuan saya disini adalah untuk belajar, sama dengan teman-teman yang lainnya walaupun tingkat skill kami berbeda-beda. Itulah yang dinamakan persaingan. Namun saya harap kami bisa bersaing secara sehat dan nantinya bisa lulus bersama-sama. 

Sekian tentang saya dan beberapa pengalaman hidup saya yang tidak bisa dijelaskan secara rinci. Saya harap dengan tulisan tentang pengalaman saya yang saya bagikan ini, para pembaca bisa termotivasi dan lebih menghargai semua hal yang kita miliki. 

Terima kasih =]



Comments

Popular posts from this blog

Profil Teman